Header artikel OEM vs Aftermarket: Kapan Pilih yang Mana?

8 Februari 2026

Oleh Tim Majendra Traktors3 menit baca

OEM vs Aftermarket: Kapan Pilih yang Mana?

Perbandingan netral antara OEM dan aftermarket untuk membantu tim procurement memilih opsi paling sesuai kebutuhan unit dan target biaya.

#oem#aftermarket#pengadaan

Perdebatan OEM versus aftermarket sering muncul di workshop, procurement, dan manajemen operasional. Faktanya, tidak ada jawaban tunggal untuk semua kondisi. Pilihan terbaik sangat bergantung pada jenis part, tingkat kritikal unit, serta target biaya dan keandalan.

Memahami perbedaan dasar

OEM adalah part yang diproduksi mengikuti standar pabrikan unit. Aftermarket adalah part dari produsen lain yang dibuat untuk fungsi dan aplikasi serupa. Keduanya bisa relevan, selama spesifikasi dan kualitas sesuai kebutuhan.

Kapan OEM biasanya lebih tepat

OEM umumnya dipilih saat:

  • part bersifat kritis terhadap keselamatan atau reliability;
  • unit masih dalam kebijakan maintenance ketat;
  • toleransi teknis sangat spesifik dan minim ruang kompromi.

Pada kondisi tersebut, kepastian spesifikasi OEM membantu mengurangi variabel risiko.

Kapan aftermarket bisa jadi pilihan rasional

Aftermarket berkualitas cocok saat:

  • aplikasi kerja memungkinkan opsi non-OEM;
  • kebutuhan biaya menuntut efisiensi tanpa mengorbankan fungsi utama;
  • supplier mampu memberi data kompatibilitas dan dukungan teknis yang jelas.

Untuk komponen maintenance rutin, aftermarket sering dipilih karena keseimbangan harga dan performa.

Fokus pada total cost, bukan harga unit

Harga beli hanya satu komponen biaya. Yang sering lebih besar adalah biaya downtime, ongkos kerja ulang, serta dampak ke jadwal proyek. Part yang lebih murah tetapi cepat aus bisa berakhir lebih mahal dalam jangka menengah. Sebaliknya, part dengan harga sedikit lebih tinggi bisa ekonomis jika umur pakainya lebih panjang.

Parameter evaluasi yang sebaiknya dipakai

Gunakan checklist sederhana:

  1. Kecocokan part number dan model unit.
  2. Material dan spesifikasi utama.
  3. Track record penggunaan di aplikasi serupa.
  4. Ketersediaan stok dan kecepatan respons supplier.
  5. Dukungan after-sales untuk klarifikasi teknis.

Dengan parameter ini, diskusi OEM vs aftermarket menjadi lebih objektif.

Hindari dua kesalahan umum

Kesalahan pertama adalah memilih murni dari harga tanpa melihat aplikasi. Kesalahan kedua adalah menolak semua aftermarket tanpa evaluasi teknis. Keduanya bisa merugikan operasional. Pendekatan terbaik adalah netral: nilai setiap opsi berdasarkan fakta lapangan.

Strategi praktis untuk tim fleet

Banyak tim fleet membagi kebijakan berdasarkan kelas part:

  • Part kritis: prioritaskan opsi dengan reliability tertinggi.
  • Part konsumsi rutin: evaluasi aftermarket terverifikasi.
  • Part dengan downtime tinggi: utamakan stok siap kirim dan respon cepat.

Strategi ini mempermudah procurement membuat keputusan yang konsisten.

Kesimpulan

OEM maupun aftermarket sama-sama dapat menjadi pilihan tepat jika dievaluasi dengan kerangka yang benar. Kunci utamanya ada pada kompatibilitas, kejelasan spesifikasi, dan risiko downtime. Dengan keputusan yang terstruktur, biaya operasional bisa lebih terkontrol tanpa mengorbankan performa unit.

Hubungi Kami
Spare Part Alat Berat • Cek Stok Cepat